Senin, 30 Juli 2012

Sekilas Riwayat Hidup


Ida ma dengganai dohot sonangnai molo tung pungu sahundulan angka na marhaha maranggi, ai disi do diparbaga Jahowa pasu-pasu, hangoluan rodi salelengnilelengna (Psalmen 133). (Dalam Bahasa Indonesia “ Sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dan rukun sebab kesanalah Tuhan Allah memerintahkan berkat” dikutip dari Mazmur 133).
Khususnya untuk kita pomparan (keturunan) Op. Niulang Dongan, firman ini perlu dihayati dan imani dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu kami mencoba untuk memeberikan paparan paparan nsebagai berikut :
1.      Ompunta Op. Niulang Dongan adalah putra ketiga dari Ompunta Parpati Toba. Dari nomor urut tarombo Borsak Bimbinan Hutasoit adalah no. 7 (Tujuh). Apabila dihitung dari kita yang masih hidup sekarang , no. urut 15 (hamper tidak kenal atau temui lagi), no.urut 16 (telah langka), no. 17 (generasi / angkatan dari penulis), disusul oleh no. 18, 19, 20, dan 21. Apabila jarak antar angkatan / generasi rata-rata dua puluh satu tahun, maka ompunta Op. Niulang Dongan hidup pada masa 10 generasi (kira-kira 210 tahun) yang lalu sekitar tahun 1800.

2.      2.1       Ompunta Op. Niulang Donganlah yang membuka (mamukka) huta Peanariburan artinya beserta keluarga (isteri,anak dan boru ) merupaka penghuni pertama huta tersebut.

2.2              Op. Niulang Dongan mempunyai satu anak laki-laki dan lima anak perempuan (boru) yang kemudian masing-masing menikah dengan marga Siburian, Aritonang, Nainggolan, dan 2 marga lainnya.
2.3              Konon kabarnya Op. Niulang Dongan adalah seorang yang kaya yang memiliki banyak harta ,seperti sawah ,lading, pea (danau kecil), emas ,ternak serta barang-barang pusaka.
2.4              Dia mempunyai seekor kuda putih sebagai tunggangan kesayangan yang mengantarkannya kemanapun dia pergi. Kuda tersebut pernah diminta memantu (hela)-nya marga Siburian dari Paranginan. Sedemikian serius permintaan namun tetap ditolak . permintaan it uterus menerus diajukan sehingga Op. Niulang Dongan menjadi marah. Ia berpesan bahwa keturunannya tidak akan pernah secara sukarela memberikan anak perempuannya sebagai istri kepada laki-laki keturunan menantu (hela)-nya itu . Sampai sekarang tradisi ini masih dihormati oleh keturunan Op. Niulang Dongan.
2.5              Kenapa ompunta bernama Op. Niulang
Dongan ?

Pengertian Dongan adalah teman / kawan. Menurut cerita orang-orang tua Op. Niulang Dongan lama menanti hadirnya anak laki-laki di keluarganya . begitu lama ia menanti kehadiran anak laki-laki untuk dijadikan teman (dongan) hidupnya sekaligus sebagai penerus keturunan dan pewaris seluruh kekayaannya. Begitu besar harapannya mendapatkan anak laki-laki namun tak kunjung terkabul, ia menjadi putus asa. Akhirnya Op. Niulang Dongan menyembunyikan dan menyerahkan pusaka dan emasnya kepada begu/homing penghuni hutan dengan perjanjian benda-benda itu tidak akan ditampakkan / dikembalikan oleh begu/homing tersebut apabila tidak ditukar dengan horbo sibadar (kerbau putih ) alias manusia.

Tak lama kemudian Op. Niulang dongan mendapatkan anak laki-laki. Ia begitu bahagia mendaptkan anak yang sudah lama dia berualng-ulang ia minta. Maka dari itu ia minta agar ia bernama Op. niulang Dongan yang merupakan nama abadidan panggilan tertinggi dari seseorang (batak).

Setelah itu saudara-saudara dan boru-boru Op. Niulang Dongan meminta agar seluruh pusaka dan perhiasan emas yang disembunyikan untuk diambil namun karena ia berjanji kepada begu/homing bahwa harta tersebut harus ditukar dengan horbo sibadar (manusia), padahal bagi Op. Niulang Dongan manusia nilainya jauh melebihi harta tersebut,maka ia berbohong kepda seluruh saudaranya dan kelima borunya bahwa seluruh harta tersebut telah dicuri orang.

Selanjutnya agar seluruh harta itu tidak terus diingat orang karena telah diserahkan kepda begu/homing. Tekait dengan anak laki-lakinya , maka Op. Niulang Dongan berpesan kepda anak laki-lakinya diberi nama Op. Niulang Bao . “Bao” artinya hanya disebut bila sangat diperlukan; tidak boleh sembarangan disebut/diceritakan. Dengan kata lain , walaupun kita mengetahuinya , namun pantang untuk disebutkan hanya sekedar supaya orang lain mengetahuinya. Contoh : nama inang bao kita pantang untuk disebut.
2.6              Op. Niulang Bao memiliki empat anak laki-laki,yaitu :
-          Op. Panaluan
-          Op. Somanala
-          Op. Toga Sahata
-          Op. Sangga Uluan
2.7              Op. Panaluan, Op. Somanala, Op. Toga Sahata, dan Op. Sangga Uluan tidak lama tinggal sekampung di Peanriburan . Menurut cerita orang-orang Tua mereka terlibat perselisihan satu sama lain sehingga mereka itu berpisah dari huta Peanariburan. Khusus Op. Somanala merantau ke hutajulu Parmonangan . Setelah sementara bermukim di HutaTinggi/ Lobu Sunuk dan kawin dengan boru Manalu- Ruma Ijuk. Dia beranak-binak di Hutajulu dan seluruh pomparannya menyebar dari sana . Dia meninggal dan dimakamkan’ditambakkon disana (Hutajulu).

Apabila urutan generasi Op. Niulang Dongan adalah no . 7 dan Op. Niulang Bao adalah no. 8 , maka urutan ke-4 ompunta di atas adalah no. 9. Sesuai dengan pengamatan barulah pada urutan ke-14 dan ke-15 beberapa keturuan para ompunta di atas kembali mendiami huta Peanariburan, kecuali keturunan Op. Panaluan.

Catatan : terkait hal-hal di atas bila ada pendapat lain yang lebih akurat tentang tempat perantauan ke-4 ompunta itu dan tentang kembalinya keturunan mereka di huta Peanariburan ini dapat dikoreksi di kemudian hari.
2.8              Dari paparan di atas dapat kita simpuklkan bahwa jarak antara urutan generasi no. 7 dan no. 8 sampai dengan no. 14 (kira-kira selama 140 tahun) keturunan ke-4 ompunta tersebut tidak pernah hidup berdampingan (sahuta) di wilayah huta Peanariburan . Khususnya pomparan Op. Somanala, yang pada umumnya bermukim di Hutajulu Parmonangan, yang pertama kali kembali di Peanariburan adalah Op Bostangan , putra ke-2 dari Op. Janji (no . urut 14) beserta keluarganya ( satu istri, satu anak laki-laki, dan tiga anak perempuan ). Kembalinya Op. Bostangan ini konon atas saran dari orang pintar agar istrinya yang sakit-sakitan menjadi sembuh dan kehidupannya menjadi sejahtera . Baru kemudian disusul kembalinya masing-masing satu anak laki-laki dari adik-adik Op. Bostangan , yaitu Op. Jonyakin dan Op. Hajoran. Terakhir yang kembali dari keturunan Op. Niulang Dongan dari Pomparam Ompu Somanala untuk ber-huta di Peanariburan adalah keluarga Sahaphon Hutasoit, SE dari Jakarta (no.18).

Adapun saat ini kira-kira 250 keluarga keturunan Op. Niulang Dongan yang mendiami wilayah Peanariburan hanya lebih kurang 20 keluarga . Keturunan Op. Niulang Dongan tersebar hampir di seluruh wilayah nusantara dan juga di Kanada, dan lain-lain yang dalam kehidupannya sehari-hari sudah tidak berkepentingan lagi dengan bona pasogit Penariburan . Kemungkinan kepentingan langsungnya hanya diwilayah tempat tinggal orang tua atau ompung-nya , antara lain untuk berkepentingan acara adat, ziarah, dan berlibur. Huta Peanariburan hampir tidak pernah dikunjungi lagi karena tidak ada yang harus diketahui/dikenang dari huta tersebut.
Pertanyaan :

“Apakah kampung/huta ini akan dilupakan oleh anak cucu kita?”

2.9              Huta Peanariburan terletak di ujung jalan artinya jalan yang ada berhenti di kampong tersebut (buntu). Lebih kurang berjarak 1.400 m dari gereja HKBP dan gereja HKI Hutasoit serta Tugu Parpati Toba, sebelah kanan dari jalan raya Silaban – Simamora. Huta tersebut berhawa sejuk di tepi atas lembah Sitabo-tabo (hutan Tobusurun), dikelilingi lading kopi,ubi,dan singkong yang subur serta pohon-pohom rindang, terutama dua pohon beringin besar yang konon kabarnya merupakan tambak (makam) Op. Niulang Dongan dan Op Niulang Bao. Di sebelah timurnya terdapat beberapa buah pea (danau kecil) milik Op . Niulang Dongan dan dijadikan usaha kongsi yang hasilnya dipergunakan untuk kepentingan bersama oleh anggota pomparan yang tinggal di wilayah adat huta Peanariburan.
3.      Ida ma dengganai dohot sonangnai molo tung sahundulan angka na marhaha maranggi, ai disi do diparbaga Jahowa pasu-pasu.

Pertemuan tanggal 1 November 2009 yang dihadiri oleh kira-kira seratus orang (ama, ina, dan anak-anak) pomparan Op. Niulang Dongan di halaman huta Peanariburan merupakan babak baru bagi pomparan tersebut karena pada pertemuan itu sahundulan lengkap na marhaha maranggi keturunan ke-4 ompunta di atas, Sejak perselisihan ke-4 ompunta di atas kira-kira 160 tahun yang lalu, pertemuan semacam ini belum pernah dapat terwujud. Dalam pertemuan tersebut sangat dirasakan campur tangan Tuhan . Dalam proses penyelesaian perselisihan turun temurun tersebut masing-masing keturunan ke-4 ompunta , yaitu :

a.      Keturunan Op. Panaluan diwakili oleh Parulian Hutasoit.
b.      Keturunan Op. Somanala diwakili oleh Partungkoan Hutasoit.
c.       Keturunan Op. Toga Sahata diwakili oleh St. J.H Hutasoit (Op. Ropatina).
d.      Keturunan Op. Sangga Uluan diwakili oleh Ama Hotma Hutasoit.
e.      Pihak boru diwakili oleh Aritonang
4.      Tanda berupa menara/partungkoan ni Op. Niulang Dongan di huta Peanariburan
Seperti yang dikemukakan di atas bahwa hampir 90 % keturunan Op. Niulang Dongan tersebar di wilayah nusantara yang tidak berkepentingan lagi kembali ke Huta Peanariburan, maka generasi kita sekarang berupaya agar keturunan Op. Niulang Dongan di perantauan merasa memiliki kepentingan dan tertarik untuk datang mengunjungi bona pasogit tersebut. Pada pertemuan tersebut di atas diputuskan perlunya mendirikan suatu tanda permanen yang menjelaskna bahwa Op. Niulang Dongan adalah pembuka (sipukka) huta Peanariburan. Tanda tersebut harus dibuat sedemikan rupasehingga menarik/representative menajdi semacam situs bersejarah di huta Peanariburan. Tanda/situs tersebut diharapkan menajdi tujuan wisata bagi masyarakat umum, khususnya keturunan Op. Niulang Dongan yang tesebar diseluruh nusantara dan mancanegara yang selama hidupnya belum pernah mengunjungi huta Peanariburan. Mereka yang selama ini mungkin hanya mengetahui identitasnya sebagai marga Hutasoit. Kemungkinan besar ompung atau orangtuanya tidak pernah memberitahukan tentang bona pasogit huta Peanriburan karena mereka pun mungkin sudah tidak mengenal huta tersebut. Maka fungsi tanda :

a.      Mediator antar keturunan Op. Niulang Dongan di perantauan dengan yang mendiami huta Peanaiburan dengan yang mendiami huta Peanariburan, karena di tanda tersebut akan dicantumkan tarombo singkat Op. Niulang Dongan, anaknyayakni Op. Niulang Bao, serta ke-4 anak Op. Niulang Bao, yaitu :
-          Op. Panaluan
-          Op. Somanala
-          Op. Toga Sahata
-          Op. Sangga Uluan
Dengan demikian diharapkan terjadi interaksi antara keturunan Op. Niulang Dongan yang berkunjung dari perantauan dengan yang ada di huta Peanariburan (dari tarombo tertulis di tanda mereka dapat betutur dengan keturunan Op. Niulang Dongan yang ada di huta tersebut). Maka terciptalah kehidupan yang rukun yang dimaksudkan di dalam firman Tuhan dan dalam pepatah “tak kenal maka tak sayang”, setelah kenal baru sayang “.
b.      Menjadi bukti abadi bahwa keturunan Op. Niulang Dongan mewarisi beberapa buah pea (danau kecil) yang tidak dimiliki oleh perorangan tapi dimiliki secara bersama-sama, hanya hasilnya selama ini dinikmati oleh keturunan yang mendiami huta Peanariburan.
c.       Di tanda tersebut akan dituliskan firman Tuhan agar semua pengunjung, terutama keturunan Op. Niulang Dongan selalu mengingat bahwa keturunan hidup bersaudara adalah kehidupan yang diberkati sehingga di dalam sanubari seluruh keturunan dari segala generasi tertanam rasa persatuan dan saling menyayangi serta menghindari perselisihan dan perpecahan di antara mereka.

Tanda/situs berupa menara/partungkoan di atas huta Peanariburan diharapkan menjadi salah satu lokasi wisata bagi keturunan Op. Niulang Dongan di masa yang akan dating disamping Salib Kasih (Tarutung) serta wisata rohani dan Tugu Pejuang T.B Simatupang (Sidikalang) yang saat ini menjadi daerah tujuan wisata khususnya pada hari-hari libur.

Tanda tersebut sebaiknya terletak di halaman huta dan dibuat berupa suatu menara yang dikelilingi beberapa tempat duduk untuk istirahat sperti yang dibuat Salib Kasih Tarutung yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat kebaktian oleh pengunjung. Adapun biaya pembuatantanda/situs di atas hakekatnya tergantung pada kemampuan yang ada karena suatu tanda/situs/partungkoan tidak harus memakan biaya besar. Yang penting tanda itu bersifat permanen, terbuat dari beton/batu, sehingga tidak dapat digeser/dipindahkan dan sulit untuk dirusak.

5.       Penutup         
Pomparan ni Op. Niulang Dongan Di bona pasogit terutama yang telah ditunjuk sebagai panitia bertekad program ini harus terwujud cepat atau lembat.

Marilah kita mengambil sikap “Kalau bukan sekarang kapan lagi tanda/situs akan terwujud dan kalau bukan oleh kita siapa lagi yang kita harapakan untuk mewujudkan ?’. Bila generasi sekarang tidak melakukannya maka keturunan Op. Niulang Dongan di perantauan akan tidak pernah lagi mengenal bona pasogitnya.

Marilah kita sisihkan berkat dari yang telah diberikan Tuhan kepada kita untuk tujuan mulia pembinaan kasih (holong ni roha), antar keturunan Op. Niulang Dongan . Firman Tuhan dalam Yakobus 4 : 17 mengatakan “ Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”

Demikian paparan ini kami sajikan untuk sekedar menjadi renungan di diri kita masing-masing.

NB. Mohon maaf apabila sekilas riwayat hidup/paparan ini terdapat kekurangan



Oleh

Dto


St. Alfred Hutasoit (Op. Martin) dari
Pomparan Op. Niulang Dongan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman

Google+ Badge

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts